Tiga semester jalan di IPB…

Bisa dibilang baru seperempat perjalanan gw selama di kampus hijau ini~

tapi yaa mungkin baru 1 semester jalannya di ITP (Ilmu dan Teknologi Pangan) IPB ini, orang bilang ni departemen diisi orang-orang jenius semua, ada yang bilang nanti kerjanya oke abis kalau masuk ITP disini….

Hmmm…. ga bohong juga kalau sampai orang-orang bilang kaya gitu juga, pasalnya almuni sini memang mereka menunjukkan kualitas kuliah di ITP ini.

Sebagian orang mungkin mempertimbangkan berbagai alasan buat masuk ke “Department of Food Science and Technology” ini. Kalau gw sendiri disuru kasi alasan buat masuk sini. Ya, gw jawab gara-gara USMI lah (kecelakaan yang bagus kali yaa, hehehehe).

Paling gw bisa share sedikit gimana si survive kuliah di IPB ini sampai masih harus bertahan di ITP. Yap, seperti orang bilang memang di departemen ini bisa dibilang orangnya jenius-jenius. Sebut aja si Mr.A, kalau kuliah kerjaannya ngobrol aja ma temen”nya, dosen crita” ga didenger juga, gilaran ujian jadi pencilan atas.. Hahahaha (T_T’) ntah gimana caranya kaya gitu.

Ada juga di kelas gw yang gila dagang sebut aja Mr.B. Tiap ari kerjaannya ngurusin dagangan mulu. Risol, donat, duit, dompet (baca : istri), kagak ketinggalan tiap ari. Memang si dagangannya oke, harga juga miring, uda ngehasilin pula (HP Xperia X8 ma PSP Limited Ed). Tapi jangan salah loh, gitu-gitu IP dia diatas 3.5 . Kadang ga abis pikir juga kok ada orang macam dia.

Di ITP ini emang numpuk orang-orang macam kaya gitu. Apapun kerjaannya IPK tetep 4.oo !

Sedangkan gw gimana ??

Ya, kaya yang gw bilang tadi sebelumnya…

Gw masuk sini gara-gara USMI… Tapi buat milih departemen yang sad*s ini gw banyak pertimbangan,,,

Mulai dari tanya orang-orang, searching i-net, discuss ma ortu, bahkan sampe gw bawa kedalam doa gw… (agak lebay ya)

Tapi pada akhirnya gw tetepin hati buat silang di tanda ITP pas USMI. ternyata……. jreng jreng jreng Puji Tuhan gw masuk ke ITP yang keren ini, gw sempet pikir ini kecelakaan USMI hahaha, tapi ternyata Tuhan tempatin gw disini ga asal-asalan. Kuliah boleh susah, Ujian apalagi, prakteknya banyak n ribet… tapi itu semua makin dijalanin makin asik.

Kerennya lagi nii buat departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB ini uda dapet sertifikasi kurikulum internasional di IFT alias si Institute of Food Technologist yang patennya cuma keluar di daerah Amerika. Dan kita ITP IPB dapat kehormatan buat dapat penyetaraan pendidikan alias kita kurikulumnya Internasional. Dari seluruh Univ yang ada di Indo baru IPB ini yang dapat pengakuan dari IFT secara resmi. Kalau ga percaya buka aja link ini :

http://www.ift.org/knowledge-center/learn-about-food-science/become-a-food-scientist/approved-undergrad-programs.aspx

Disitu ada Bogor Agricultural University donk

hahaha

Bisa dibilang kuliah disini penuh dengan kebanggaan tersendiri. Civitas kita emang dikenal sebagai civitas yang cendikia dan udah menyebar di seluruh perusahaan pangan yang sampai skala pangan dunia. Bekal yang didapetin juga luar biasa dahsyat okenya… (narsis mode : on)

Gw bangga menjadi bagiannya. Gw memang saat masuk kurang tau ITP itu apa, gimana kuliahnya aja blank, pelajarannya macam apa juga gw ga tau. Awalnya gw ragu ama pilihan gw ini, tapi setelah gw masuk ga ada penyesalan lagi. Gw yakin ini terbaik dariNya.Setelah masuk sinilah  yang membuat gw bertahan dan ga mau pindah. Mungkin bisa dibilang cita-cita gw terbentuk saat masuk ke ITP.

“Our core aim is to enhance the quality of consumers lives every day, everywhere by offering tastier and healthier food and beverage choices and encouraging a healthy lifestyle. We express this via our corporate proposition Good Food, Good Life.” Sebuah Quote yang gw ambil dari (http://www.nestle.com/AllAbout/AllAboutNestle.htm) dan gw merasa Visi mereka itu bagus banget. Dimana kita sebagai Food Technologist bukan gmn membuat pangan yang laku dipasaran. tapi gmn pangan menjadi motor kesehatan tanpa melupakan aspek rasa, gizi, dan gaya hidup sehat. Setiap orang layak buat dapetin hidup yang layak dengan makanan yang sehat.

Dari rasa keinginan inilah yang menggerakan gw buat terus berkarya di dunia pangan ini !

Sedikit asing orang mendengar istilah teknologi pangan, padahal kalau dipikir ulang ga ada satu orang pun yang berhenti butuh makan kecuali udah meninggal. Jadi ingat kuliahnya Ibu Hanny Wijaya, koordinator MK Kimia Pangan. Beliau pernah bilang untuk membayangkan bagaimana bekerja sebagai seorang Flavourist yang kerjaannya cuma nyicip sana nyicip sini bisa punya gaji minimal 80 juta buat mencicip rasa manis aja. >.<~

Kalau kita liat di Wiki Flavourist itu :

A flavorist, also known as flavor chemist, is someone who uses both chemistry and art to engineer artificial and natural flavors. The tools and materials used by flavorists are almost the same as that used by perfumers with the exception that flavorists seek to mimic or modify both the olfactory and gustation properties of various food products rather than creating just abstract smells. As well, the materials and chemicals that a flavorist utilizes for flavor creation must be safe for human consumption.

Flavorists, as profession, came about when affordable refrigeration for the home spurred a major growth of food processing technology. Processes used in the food industry to provide safe products often affect the quality of the flavor of the food. To the detriment of the manufacturer these technologies remove most of the naturally occurring flavors. To remedy the flavor loss the food processing industry created the flavor industry. The chemists that tackled the demand of the food processing industry became known as flavorists and thus the flavor industry was born.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Flavorist)

Meskipun sebagai “tukang cicip”, tetep ga lupain kerjaannya sebagai ahli pangan yang harus menyediakan pangan yang sehat. Keren ! Bagaimana pekerjaan seseorang lebih memikirkan orang banyak dimana hal itu akan dikonsumsi secara besar-besar. Hal ini luar biasa bgt. Hidup bukan cuma karena uang tapi rasa sosial dan cinta. Orang bekerja bukan buat dirinya sendiri, tapi apa yang dikerjaiinya bakal nentuin hidup orang banyak. Mungkin sebagian orang memanfaatkan ini buat ngelakuin hal yang ga baik. tapi gw merasa hidup sebagai Foood Scientist harus mikirin orang lain bukan diri sendiri.

Coba kita bergerak ke pekerjaan lain dari ITP sebagai QC atau Quality Control

ngutip dari sebuah web coba kita baca :

“Food Quality Control aims at providing basic and practical information on food characteristics and safety controls.

One important element of our work is ensuring that food supplies are safe, of good quality and can contribute to an acceptable nutritional and health status for all population groups.

Food Quality Control is linked to improvement in the health of the population, potential for a country’s economic development and reduction of spoilage and food losses.”

Gimana ga keren yak. bahkan seorang QC aja mikirin orang lain lagi, bagaimana keamanan pangan menjadi prioritas. Daya pikir ini ga boleh cuma ada di Food Scientist tapi semua pekerjaan harus mulai orientasi sosial juga. Dimana Pekerjaan dijalanin bukan sekedar pekerjaan tapi rasa cinta pada orang lain dan dedikasi buat orang banyak.

Sebagai seorang cendikia yang bertujuan mulia demi kehidupan orang banyak, ahli pangan hadir dalam membentuk suatu pangan yang sehat dan dapat dijangkau semua orang dengan kualitas tinggi tanpa melupakan cita rasa yang dihadirkan. Hidup yang terjadi bukan untuk diri sendiri tapi demi hajat hidup orang banyak. Kiranya Tuhan memberkati pekerjaan mereka !

Temen-temen thx ya uda baca ini blog semoga bermanfaat ya

Referensi :

http://en.wikipedia.org/wiki/Flavorist

http://foodquality.wfp.org/

http://www.ift.org/knowledge-center/learn-about-food-science/become-a-food-scientist/approved-undergrad-programs.aspx

http://www.nestle.com/AllAbout/AllAboutNestle.htm

Diakses pada tanggal 12 Desember 2010

Ditulis oleh :

Ardy Brian Lizuardi

Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan

Institut Pertanian Bogor

2010

London, Satu lagi penemuan baru yang menuai kontroversi. Ilmuwan berhasil membuat darah sintetik yang bisa digunakan untuk semua golongan darah dari embrio bayi tabung yang berumur kurang dari 4 hari.

Penemuan darah sintetis ini memang bukan yang pertama, karena sebelumnya sudah ada pembuatan darah sintetis yang berasal dari tali pusat bayi.

Untuk kali ini, peneliti di Inggris menggunakan 100 embrio cadangan (spare-embryo) yang tidak digunakan dalam proses pembuahan bayi tabung.

Karena berasal dari embrio yang berusia kurang dari 4 hari, peneliti bisa mendapatkan jenis darah universal. Jenis darah yang dimaksud adalah golongan O-negatif, yang hanya ditemukan pada 7 persen dari seluruh populasi manusia.

Peneliti mendapat izin dari pemilik embrio untuk menggunakan embrio yang tidak dipakai dalam pembuatan darag sintetis. Seperti diketahui dalam pembuatan bayi tabung biasanya embrio yang dibuat lebih dari satu sebagai cadangan sementara yang dimasukkan ke rahim hanya satu.

Darah ini dikatakan sebagai donor universal karena bisa ditransfusikan ke siapapun tanpa ada risiko penggumpalan. Penggumpalan biasanya terjadi ketika golongan darah yang akan ditransfusikan tidak sesuai dengan golongan darah penerimanya.

Proyek senilai 3 juta poundsterling ini didanai oleh Wellcome Trust. Jika berhasil, para penliti berharap bisa memproduksi dalam skala besar yakni 2 juta kantong darah pertahun sehingga bisa mengatasi kelangkaan donor darah di Inggris.

Sudah bisa diduga, proyek yang dimulai sejak tahun lalu ini tentu saja memancing kontroversi. Salah satu pendapat muncul dari direktur Campaign for Reproductive Ethics, Josephine Quintavalle yang menentang penggunaan jaringan yang diambil dari embrio.

Seperti dikutip dari Telegraph, ilmuwan menggunakan lebih dari 100 embrio yang tersisa dari pengobatan di klinik kesuburan untuk menciptakan beberapa garis sel induk embrionik. Salah satu sel induk bernama RC-7 telah ditransformasikan menjadi sel induk darah sebelum ilmuwan mengkonversi menjadi sel merah yang berisikan hemoglobin atau pigmen yang membawa oksigen.

Tujuan penelitian yang bernilai 3 juta poundsterling (Rp 42,1 miliar) ini adalah menemukan sel genetik yang terprogram untuk mengembangkan darah negatif O.

Ini merupakan kelompok donor universal yang memungkinkan darah dapat ditransfusikan ke semua orang, tanpa perlu khawatir adanya penolakan.

Tidak hanya itu, proyek yang didanai badan amal Wellcome Trust ini dilakukan untuk memproduksi lebih dari dua juta liter darah setahun.

Ahli mengatakan temuan ini bisa menjadi revolusi dunia pengobatan dengan mengakhiri ketergantungan pendonor sukarela yang menyediakan sumber transfusi darah secara konstan.

Sel darah versi sintetis ini dijamin bebas dari infeksi seperti penyakit ‘sapi gila’. Penemuan tersebut juga meningkatkan kemungkinan untuk memproduksi seluruh kebutuhan darah di Inggris dari satu ‘pendonor darah universal’ yang hanya muncul pada embrio IVF berusia empat hari.

Persyaratan penting bagi darah sintetis adalah ketersediaan yang lebih murah dibandingkan donor darah.

Persedian darah mengadapi ancaman kekurangan pasokan karena lebih dari 2,4 juta pendonor darah dibutuhkan setiap tahun untuk transfusi dan produksi darah.

Prof Marc Turner dari Edinburgh University yang juga direktur klinis dari Scottish National Blood Transfusion Service (SNBTS) mengatakan bahwa darah sintetis dapat mengubah kondisi pengobatan dalam skala industri.

IPB Badge